Tiga puluh enam tahun usianya. Wajahnya tak lagi remaja. Namun semangatnya tak pernah berkurang. Ia tak cantik. Tetapi senyumnya sungguh menawan. Itu adalah senyum ketulusan, lembut, sejuk. Senyum yang terpancar dari pribadi seorang muslimah sholihat.
Ia muslimah sederhana nan bersahaja, yang keringatnya leleh untuk membiayai kehidupannya, ayah ibu, dan empat orang adiknya. Ia yang bahkan tak sempat untuk sekedar membedaki wajahnya, apatah lagi memolesnya dengan berbagai macam make up. Dan sedikit pun ia tak mengeluh.
Kak Nella. Sapaan akrabnya. Ah… ia baik sekali. Ia tak merasa malu untuk belajar dari orang2 yang usianya lebih muda darinya. Termasuk padaku. Ia tak segan bertanya, dan yang paling aku suka, ia seorang pendengar yang baik, teman curhat yang menyenangkan.
Di usia itulah ia berlayar, mengayuh biduknya mengarungi samudera bernama rumah tangga. Sungguh penantian yang tidak sebentar. Tetapi ia telah merasakan manisnya, buah dari kesabaran. Ia mendapatkan impiannya. Ya, ia menikah dengan lelaki impiannya, lelaki yang membawanya kembali ke kampung halamannya di Ambon sana.
Pernikahannya… adalah pernikahan yang paling mengharu biru. Setidaknya begitulah menurutku. Sebuah pernikahan sederhana, tak ada pelaminan, sebab sang pengantin tak sanggup menyewa kursi pengantin. Hanya ada hamparan karpet di sebuah Mesjid sederhana dengan sedikit hiasan bunga-bunga plastik dan beberapa hiasan kaligrafi.
Jangan berfikir tentang pakaian pengantin yang mewah dan berganti-ganti, sebab ia hanya mengenakan sebuah gamis putih yang juga sederhana. Meja prasmanan atau gubuk-gubuk makanan? Tak akan ditemukan di sana. Sebab semua makan dengan sebuah hantaran yang sama, duduk lesehan di karpet yang sama.
Sungguh, tak ada kemewahan di sana. Tetapi, sedikit pun tak mengurangi kebahagiaan dan senyumnya yang tulus.
Dan saat ijab qabul terucap… air mataku bercucuran. Oh tidak, bukan aku saja. Semua meneteskan air mata… haru… ah… kakakku… sungguh, kau telah mendapatkan keberkahan dari kesederhanaanmu. Semoga Allah melimpahkan keberkahan hingga akhir hayatmu.
***
Lima tahun yang lalu, kisah itu terekam dalam memoriku. Tak ada lagi pernikahan sederhana setelah itu. Setidaknya yang aku saksikan hingga saat ini. Semua seolah berlomba untuk sebuah acara seumur hidup yang tak terlupakan. Hingga dahi pun berkerut-kerut menghitung anggaran biaya walimah yang menguras seluruh tabungan. Tetapi tahukah kau, pernikahan sederhana di ataslah yang tak pernah terhapus dalam memoriku.
__________________________________
Ditulis dengan kerinduan yang teramat dalam, pada sosok tawadlu yang menentramkan. Kak Nella….