Saturday, May 27, 2006

Wanita yang takut jatuh cinta

Sungguh! Dia cantik. Tidak hanya itu. Dia cerdas, supel, dan sangat ramah. Tetapi aku heran. Dia selalu berdiam diri setiap kali seorang laki-laki datang kepadanya, meminta hatinya, mengajaknya untuk menikah. Ia tidak menerima, tidak juga menolak. Dia hanya diam. Meminta biodata dirinya? Dia hanya akan memberikan untuk kepentingan administrative, tidak untuk proses menuju pernikahan.


Tak disangka, suatu ketika dia mengobrol denganku.


“Her, ada yang ngajakin kamu taaruf. Mau ga?” tanyanya


“Wah, kalo emang iya, buat mba aja deh!” sambil berkata begitu, aku tersenyum menggodanya.


“Aku tidak akan pernah melakukannya.” Jawabnya tak terduga. Jika yang berbicara adalah seorang feminis yang tidak mengenal jilbab dan kajian, mungkin aku percaya. Tetapi, aku rasa dia faham apa artinya menikah.


“Kenapa mba?”


“Sebab aku tidak mau jatuh cinta!” jawabannya setengah terluka.


Ah, apa aku telah menyinggungnya? Mataku mulai panas. Aku ingin menangis.

“Menikah bukan karena telah jatuh cinta. Tetapi karena pernikahan adalah ibadah, setengah dari agama.” Aku berkata perlahan seolah pada diri sendiri.


“Aku sudah pernah menikah sekali. Jadi tidak perlu lagi.”


Aku ternganga. Kali ini air mata sudah mengalir.


“Kalau saja ada hati yang terbuat dari batu, aku akan meminta agar hatiku terbuat dari batu. Agar tak perlu jatuh cinta, hingga tak perlu kecewa.” Mendengarnya, air mataku semakin bercucuran. Sungguh, aku sayang padanya. Mengapa dia berfikir begitu?


“Dia meninggalkanku saat pernikahan kami belum seumur jagung. Padahal tak kurang, setiap hari dia berkata mencintaiku. Umurku waktu itu 18 tahun. Lalu aku mulai berislam dengan benar. Aku berjilbab, mengaji, meneruskan kuliah. Aku menganggap bahwa semua tidak pernah terjadi, tetapi hatiku teriris setiap hari. ” Dia terus bercerita, sementara air mataku terus bercucuran. Aku tak ingin bertanya, aku hanya ingin mendengar.


“Tak sedikit laki-laki yang datang setelahnya. Juga berkata mencintaiku. Dan aku sama sekali tak peduli. Hingga 3 tahun setelah itu, laki-laki kedua mengisi hatiku dengan cintanya. Kami sepakat untuk menikah. Orang tua kami setuju, dia menerimaku apa adanya. Dan di hari saat seharusnya dia mengkhitbahku, Allah memanggilnya pulang.” Bercerita begitu, tak ada setetes pun air matanya, padahal air mataku telah semakin bercucuran.


“Dan setelah itu, aku tak lagi bisa menghitung, berapa lagi yang berkata mencintaiku. Tetapi aku sudah tidak berani lagi jatuh cinta.” Dia mengakhiri ceritanya. Dan dia sama sekali tidak menangis. Kekuatan sekaligus kerapuhan. Aku hanya tergugu, berharap dia hanya bergurau. Tetapi, dia serius.



***
Kini aku mengerti, mengapa ia meminta hati yang terbuat dari batu. Mengingatnya, air mataku kembali bercucuran. Padahal kisah itu ia ceritakan 5 tahun yang lalu. Kami tak pernah lagi bertemu. Entah ia di mana. Tetapi aku berharap, bahwa saat ini ia tak lagi takut jatuh cinta.
Meski aku sendiri tengah meyakinkan diri, bahwa tidak perlu takut untuk jatuh cinta lagi.


Menikahlah… hingga ketenangan itu melimpah. Wallahua’lam bisshawwab.









Always with love ~~~~@ izti @~~~~

1 Comments:

  • At 8:52 AM, Blogger Dedi Hidayat said…

    Banyak hal yang tidak pernah kita mengerti di dunia ini..

    Tapi itulah misteri nya kehidupan..

    “Dalam hidup, terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu bahwa yang kita inginkan terkadang tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih bahagia”.

    Insya Allah..Allah akan memilihkan waktu yang tepat, kesempatan yang tepat, dan dengan orang yang tepat.

    Tapi yang jelas..kita akan menikah dengan orang yang memang kita ingin menikahinya..bukan karena kepepet ataupun karena keterpaksaan apalagi sekadar ketidakenakan.

    "Semoga Rindu ini akan segera sampai pada muaranya"

    Allah akan selalu bersamamu ukhti...

     

Post a Comment

<< Home